Do you know why it's hard to say goodbye? Because we afraid if our memories might not be able to remember them, rightly. The fact is, goodbye means good. No matter how hard.
~Aurora Esterlia

The Finale


Marion ditemukan oleh Rory di kamar tidurnya, tertidur, dengan wajah matanya bengkak, terlihat bekas air mata, kedua tangannya mendegap bingkai foto. Rory ikut sedih melihatnya, ia berlutut di samping ranjang dan membangunkan Marion perlahan,

            "Marion, bangun..." bisiknya. "Marion?"

Marion membuka matanya perlahan, ia tahu ia telah terbangun,meski awalnya buram, akhirnya ia dengan jelas Rory sedang berada di tepi ranjang. Marion mulai menangis, ia memegang erat tangan Rory, berteriak menangis. Rory tidak tahan melihatnya, ia segera memeluknya, mencoba menghentikan tangisan Marion yang penuh pilu menghadapi kenyataan. Di balik punggung Marion, Rory pun matanya telah berkaca-kaca. Raungan Marion hanya mengeluarkan satu kata, "No...No!!! NO!", dan terus-menerus, tanpa berhenti. Hanna berdiri di depan pintu kamar ikut menangis melihat wajah Rory yang berusaha bertahan.

            Kematian Aaron memang tidak ada yang pernah menyangka. Semua orang terguncang. Terutama mereka tidak akan bisa memikirkan bagaimana perasaan Marion. Mereka tidak habis pikir bagaimana menguatkan Marion. Kematian Aaron karena terbunuh di depan matanya sendiri. Ketika mereka harus memilih sendiri siapa yang harus diselamatkan. Aaron mendorong Marion, dalam sesaat, tembakan itu langsung menuju dada Aaron. Darah keluar dari mulut Aaron tepat tersumbar ke wajah Marion. Badan Aaron segera jatuh menyamping, Marion yang terkejut mengikuti Aaron menjatuhkan diri ke tanah. Marion hanya memegang tangan Aaron sangat kuat, memanggil namanya terus-menerus. Tapi Aaron tidak menyahut. Marion terus bertahan, ia tidak mau meninggalkan Aaron. Ketika Pembunuh itu menghampiri mereka berdua, bahkan Marion tidak melihatnya lagi. Ia hanya terus menangis dan memanggil nama Aaron. Pembunuh itu segera menodongkan senapannya tepat di kepala Marion. Marion tersadar dan ia segera mendekatkan pegangan tangannya dengan tangan Aaron, menciumnya sambil menutup mata. Dalam pikirannya, ia lebih memilih mati saat itu daripada meninggalkan Aaron. Lalu ia pingsan.

            Ketika ia terbangun, hal yang sama terjadi. Seluruh tangannya bersimbah darah, ia tidak tahu apa yang terjadi. Ia membunuh pembunuh itu begitu sadis. Marion berteriak-teriak karena ia kaget dan bukan ini yang dia inginkan. Ia segera mencari dimana Aaron, dan ia menemukannya, Marion segera memeluk badan Aaron yang tidak lagi bergerak. Ia terus mengatakan kalau dirinya yang memang pantas mati bukan Aaron. Ia berharap Aaron tidak mati. Ia pun berada di titik ingin bunuh diri. Ia melihat beling di dekatnya dan segera memotong kedua urat nadinya. Ia memegang tangan Aaron, mendekatkan badannya pada Aaron. Ia berjanji tidak akan meninggalkan Aaron.

            Saat itulah bantuan berhasil menemukan dimana mereka berada. Rory melihat Aaron dan Marion. Rory kaget mereka berdua seperti telah mati. Mereka berdua segera diselamatkan. Rory menangis dan terharu melihat mereka berdua berjuang. Hingga di rumah sakit, Aaron dan Marion berada di titik koma. Hingga akhirnya Aaron terbangun. Dokter bilang, merupakan suatu keajaiban Aaron bisa terbangun. Aaron bilang, ia ingin melihat Marion. Marion tidak terbangun. Aaron memegang tangan Marion, berbisik,

            "Jangan menyerah, Marion. Aku melihatnya semua. Bukan Marion yang membunuh. Bangunlah. Aku menunggu mu. Kau benar-benar tidak meninggalkanku. Aku mencintaimu. Bangunlah." Sesaat air mata Marion menetes. Aaron menyeka air mata itu. Aaron tahu betapa berat menjadi Marion yang memiliki kepribadian ganda. "Aku mencintaimu apa adanya. Kamu telah menyelamatkan kita berdua. Dapatkah kau bangun, Marion? Aku ingin mendengarmu tertawa, meski terakhir kali saja." Aaron menangis. Ia tahu waktunya tidak banyak. Meski Aaron selamat, tapi dalam badannya semakin rusak. Namun, ternyata, yang terbangun adalah kepribadian ganda Marion. Kepribadian itu tersenyum padanya dan ia mencium Aaron. 

              "Aku mencintaimu, Marion."

            "Kamu memang pantas menjadi suaminya." Lalu kepribadian itu tertawa. "Adakah yang ingin kau lakukan terakhir bersama Marion?"

            "Aku ingin menikahi kalian berdua." Lalu kepribadian itu tertawa lagi. 

Kepribadian itu segera berjalan bersama Aaron yang berada di kursi roda, ke kapel rumah sakit. Kali ini, cincin nya Aaron diberikan kepada Marion, ditaruh di kalung. Kepribadian itu mencium Aaron kembali. Setelah itu Aaron meminta menayangkan kembali video pernikahannya dengan Marion. Kepribadian itu menemani Aaron menontonya. Aaron tertawa sambil menitikkan air mata. Saat itulah Aaron meninggal. Kepribadian itu meminta maaf karena ia yang membuat Marion tidak keluar. Kepribadian itu tidak ingin Aaron mencintai yang sebenarnya tidak ada.  Bahwa kepribadian itu lah diri Marion yang sebenarnya. Seorang pembunuh. Diri Marion, wanita baik, polos, dan lemah, adalah kepribadian ganda yang sebenarnya.

            Kepribadian itu membisikkan kepada Aaron, "Aku mencintaimu, Aaron."  Marion hanya membaringkan Aaron seperti sedang tertidur. Lalu, ia kembali ke ruangannya, disitulah kepribadian itu menangis. Namun, ia membiarkan dirinya kembali tertidur di dalam diri Marion. Rory yang menemukan Aaron pada pagi hari. Ia yang sempat memberikan video pernikahan itu. Rory melihat video itu terhenti pada wajah Marion yang sedang tertawa bersama Aaron. Ia memperhatikan wajah Aaron yang meninggal dengan damai. Mungkin, karena video itu.

 Esoknya, Marion terbangun, tidak ingat apapun. Rory lah orang pertama ia lihat. Rory yang mengabarkan bahwa Aaron meninggal kemarin malam. Marion segera berlari ke tempat Aaron, tapi badannya sudah tidak ada lagi. Aaron telah pergi.

             

Comments

Popular posts from this blog

Never Enough

Around Girl: The Red Shoes

Rings (2017) is Not Good