Do you know why it's hard to say goodbye? Because we afraid if our memories might not be able to remember them, rightly. The fact is, goodbye means good. No matter how hard.
~Aurora Esterlia

Classic Time 3

Perebutan kekuasaan memang tidak ada habisnya.

Dalam monarki kerajaan, tentunya terbiasa dengan sifat patrilineal. Suatu kerajaan dalam enam generasi dipimpin oleh seorang Raja. Namun, pada generasi ketujuh, kerajaan tersebut hanya memiliki seorang anak perempuan, yang akhirnya kerajaan itu pun menikahi sang putri dengan kerajaan yang sama kekuatannya demi kepentingan politik. Pada masa itu, sang Raja baru yang berasal dari kerajaan sebelah mengeluarkan wewenang bahwa diperbolehkan seorang Ratu memimpin. Pernyataan menjadikan banyak sekali pertentangan, apalagi dengan anak satu-satunya adalah Putri Luciana.

Dikeluarkan pernyataan itu pun membangkitkan keturunan-keturunan kerajaan yang dahulu diasingkan ataupun diusir akibat perbuatan yang melanggar dan ancaman pengkhianatan.

Pangeran Edward, keturunan asli kerajaan dari Raja pertama kerajaan. Keturunan raja pertama setelah naiknya penerus raja kedua, bukan jatuh pada anaknya namun kepada saudara kandungnya kedua. Anaknya laki-laki dijebak melakukan tindakan senonoh dengan seorang bangsawan laki-laki dan akhirnya hampir dihukum pancung, namun berhasil kabur. Selama itu, meski sebagai buronan, tidak ada yang pernah tahu keberadaan anak laki-laki itu. Hingga akhirnya pada generasi ketujuh, Pangeran Edward membutuhkan status sebagai Raja tersebut demi menegakkan keadilan atas garis keturunan keluarganya.

Pangeran Cornelius, sepupu dari Putri Luciana, tepatnya garis keturunan sepupu dari Ratu, keluarga kerajaan murni. Keluarga ini secara garis besar merupakan lawan dari garis keturunan Raja. Lahirnya Pangeran Cornelius merupakan cahaya besar bagi keluarga kerajaan sebagai penerus kerajaan yang sah. Secara garis besar, Putri Luciana harus menghadapi pertentangan dengan Pangeran Cornelius.

Putri Caroline Madeline, putri kerajaan yang lahir dari garis keturunan kerajaan murni. Ia memiliki status yang sama dengan Pangeran Cornelius. Ayahnya adalah, Tristan Madeline, yang dulu berhak menerima sebagai Raja dalam kerajaan namun ditolak akibat ibunya adalah keluarga kerajaan yang akibat salah satu anggota keluarga melakukan pengkhianatan pembunuh berencana kepada raja, Tristan diragukan dan ia pun sepenuhnya ditolak. Tristan Madeline pun menikah dengan putri dari keluarga kerajaan sang Ratu dari Raja pertama kerajaan yang mana sejak kisah anak laki-laki keluarga kerajaan Raja Pertama dijebak dan diusir tidak lagi mempercayai kerajaan tersebut. Dengan keberadaan Tristan Madeline, semakin kuatlah garis keturunannya dan lahirlah Putri Caroline Madeline. Sejak awal, Putri Caroline Madeline tidak berencana merebut kekuasaan sebagai Ratu, namun ia tetap ingin menguasai kerajaan tersebut.

Klimaks:

Putri Luciana awalnya tetap percaya diri bahwa ia akan menjadi Ratu. Di tengah, Pangeran Cornelius terus menentang mengenai perubahan patrilineal menjadi matrilineal ini, Pangeran Edward menantang kedua calon dengan keberadaannya sebagai keturunan yang sah untuk menjadi Raja. Mulai dari saat ini, Putri Luciana dan Pangeran Cornelius bekerja sama untuk kembali menjebak Pangeran Edward. Sedangkan, Putri Caroline Madeline tinggal menunggu naiknya Putri Luciana sehingga ia memiliki dasar kuat untuk menjatuhkan Putri Luciana dan menaikkan dia menjadi Ratu.

Ending:
Putri Luciana naik tahta, lalu Putri Caroline Madeline berhasil menghasut Pangeran Cornelius mengeluarkan semua kartu jahat tentang Putri Luciana, dan ternyata naiklah Pangeran Edward sebagai Raja. Pangeran hendak menikahi Putri Caroline, namun berakhir tragis, Pangeran Cornelius meracuni Pangeran Edward. Putri Caroline pun naik tahta dan menghukum pancung Pangeran Cornelius.

Comments

Popular posts from this blog

My Pottermore

Rings (2017) is Not Good

Warm Hearts of Sisters